
Di era modern seperti sekarang ini, banyak sekali jajanan tradisional tetap menjadi buruan banyak orang. Salah satunya adalah kue apem, kuliner khas Jawa yang memiliki makna filosofis mendalam, terutama bagi masyarakat Islam Jawa.
Tak heran, kue ini masih eksis dan hampir selalu hadir dalam berbagai tradisi dan upacara adat di Jawa. Rasanya yang manis lembut serta tampilannya yang sederhana membuat apem mudah disukai. Kue apem merupakan jajanan tradisional Indonesia yang terutama terbuat dari campuran tepung beras, gula (pasir atau merah), santan, ragi, dan tape singkong. Adonan ini difermentasi agar teksturnya empuk dan berongga, kemudian dimasak dengan cara dikukus atau dipanggang. Beberapa variasi juga menggunakan campuran tepung terigu.
Kue apem memiliki makna dan simbol yang sangat penting bagi masyarakat Jawa. Dalam konteks kearifan lokal, kue apem menjadi bagian tak terpisahkan dari acara syukuran dan selametan kematian, dan juga di mana kue ini disajikan pula sebagai perlengkapan menu sesaji. Kehadirannya dalam sesaji merupakan simbol yang melambangkan permohonan ampun (apem) kepada Allah SWT dan juga sebagai permohonan maaf dari manusia kepada manusia. Melalui simbol makanan kue apem dalam sesaji, masyarakat menyampaikan permohonan maaf dan pengharapan agar arwah yang telah meninggal dapat diterima dengan baik di sisi Tuhan.
Berikut adalah poin penting mengenai kue apem: Filosofi: Nama “apem” diyakini berasal dari bahasa Arab affan atau afuwum yang berarti maaf atau pengampunan. Kue ini melambangkan permintaan maaf, permohonan ampun, dan keberkahan. Bahan Utama: Umumnya terbuat dari tepung beras, gula Jawa/pasir, santan, ragi, dan tape. Bentuk: Mirip dengan serabi namun umumnya lebih tebal, berbentuk lingkaran, dan sering dikukus hingga berbentuk kerucut. Signifikansi Budaya: Dalam tradisi Jawa, apem dianggap sebagai simbol sedekah, tolak bala, dan penghormatan terhadap leluhur.
Dalam aspek spiritual dan keagamaan, kue apem juga menjadi wujud dari penghargaan dan syukur masyarakat terhadap anugerah alam dan kehidupan. Dengan demikian, kue apem bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi dan kearifan lokal yang turun-temurun.
